Pemutusan Hubungan Kerja – PHK dan dipecat bukanlah akhir segalanya

pemutusan hubungan kerjaBeberapa hari ini, situasi lingkungan tempat saya bekerja sangat resah. Berita tentang Pemutusan Hubungan Kerja dari perusahaan sangat memukul para karyawan yang bekerja di tempat saya mencari uang tiga tahun terakhir ini. PHK dilakukan bukan karena kinerja para pegawai yang buruk namun lebih dikarenakan alasan finansial yang dianggap perusahaan tidak menguntungkan untuk dilanjutkan.

Kabar tentang Perusahaan yang akan menutup bisnisnya empat bulan mendatang disampaikan langsung oleh Petinggi Company yang memimpin Area wilayah global dunia kawasan Asia dan sekitarnya. Tidak ada yang menduga dan menyangka. Sangat mengejutkan memang. Membuat shock teman-teman yang memiliki kinerja bagus dan bersungguh-sungguh dalam membangun pabrik serta menghasilkan product berkualitas tinggi.

Keterkejutan bukan hanya dialami oleh para karyawan, keluarga karyawan juga terkena imbasnya. Banyak yang bertanya-tanya, demikian juga dengan keluarga saya. Terus bagaimana! Sudah ada bayangan akan pindah kemana? Bagaimana dengan kredit rumah yang belum selesai, kredit mobil yang baru saja diambil, dan biaya anak sekolah serta tunjangan kesehatannya. Dan lain sebagainya.

Pikiran berkecamuk di dalam diri masing-masing. Walaupun Pihak personalia sudah mengumumkan kompensasi dari pemutusan hubungan kerja yang cukup memuaskan tetap menimbulkan resah di dalam hati.

“Sakitnya Tuch Di Sini” begitu kira-kira perasaan pekerja yang sangat bersemangat dengan nafas kerja diperusahaan tempat sayamencari sesuap nasi ini.

Sedih Boleh, kecewa wajar, bingung sangat manusiawi. Patah semangat jangan. Kuatir bisa dimaklumi.

Bagi saya sendiri pindah dari satu perusahan ke perusahaan lain dikarenakan kondisi perusahaan sudah saya alami beberapa kali.

Saya menulis ini sebagai kilas balik dan mencoba merenungkan apa yang harus saya lakukan ke depan. Persiapan apa yang harus saya siapkan. Dan juga strategi apa yang musti dijalankan dalam hal finansial keluarga.

Setelah mengingat-ingat pengalaman masa lalu, saya mendapatkan beberapa kesimpulan dalam menghadapi PHK. Sederhananya saya dahulu melakukan kegiatan saya dengan strategi dibawah ini:

1. Belajar Akunting lagi, hitung Balance Debit Kredit, Tabungan, Hutang-Kredit, dan Asset serta piutang bila ada.

2. Persiapkan Dana kompensasi yang akan diterima untuk melunasi hutang bila memungkinkan.

3. Hitung Kembali Pengeluaran bulanan, Memulai memilah pengeluaran yang tidak perlu.

4. Persiapkan sekiranya pengeluaran sampai 6 bulan ke depan dengan standar minimal kebutuhan keluarga. (Sekolah anak dan Gizi adalah nomor satu). Angka 6 bulan berdasarkan pengalaman kecepatan mendapatkan pekerjaan yang baru.

5. Tetap Optoimis dan berpikir positif

6. Selalu mencari informasi peluang kerja dan lowongan pekerjaan.

7. Berdoa dan Memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Yang Perlu diwaspadai dan dipersiapkan adalah mental disaat menerima Dana kompensasi dari perusahaan yang biasanya bernilai cukup besar bagi orang yang terbiasa dengan gaji bulanan. Ingat.. Jangan tergiur dengan pembelian barang-barang yang tidak perlu, jangan mudah mengambil keputusan memulai bisnis yang tidak kita pahami benar.

Ada kata-kata mutiara yang sering kita dengan ” Rejeki sudah ada yang Atur” , “Rejeki tidak tertukar”. Menurut pengalaman empiris saya hal itu benar.

Jadi PHK atau Pemutusan Hubungan Kerja dengan kata lain di PECAT bukanlah akhir segalanya. Percayalah…..

Ada yang ingin menambahkan listing strategi di atas? Terima Kasih bila anda ingin berbagi pengalaman.

Silahkan komentar di kolom bawah bila teman-teman memiliki pengalaman yang akan sangat membantu dalam menghadapi PHK.

Salam…

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *